Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2013

Lalu Apa?

sekitar pukul 7 malam.
ya seperti biasanya, aku pulang lebih larut setiap hari jum'at, karena harus mengikuti kuliah di jam ke-5.
aku pulang naik metromini menuju rumah, aku duduk didekat kaca mobil.
rintik hujan malam itu melengkapi suasana gundah yang ku rasa.
dari balik kaca aku melihat pemandangan yang tak asing, tapi selalu menarik untukku.
ya, ramainya jakarta, lalu lalang kendaraan, lampu-lampu yang saling berpautan, pedagang-pedagang yang tak henti mengais rejeki,  wajah-wajah muram pesisir kota, dan segalanya tentang Jakarta malam.
ya, sederhana namun penuh makna.
suasana ini kembali mengingatkanku pada tokoh-tokoh fiktif ciptaanku, Matahari dan Bintang Pemalu.
cerita yang amat klasik, namun tak pernah ada solusi terbijak untuk mengatasinya, cinta beda agama.
Aku ingin membuat akhir yang berbeda dengan cerita-cerita yang biasanya, aku sudah menemukannya,
namun aneh, setiap saat jemariku ingin memulai mengetik satu demi satu huruf, menciptakan kata-kata sederhana, aku tak bisa. aku tak tega membuat akhir yang tragis untuk cerita ini, aku tak pernah tega membuat sang Bintang Pemalu terjatuh ke permukaan bumi, atau bahkan terperosok ke dalam Blackhole. Begitupun dengan Matahari, aku tak tega membuat suatu gerhana atau lebih parahnya suatu Badai Matahari. Lalu aku memutuskan untuk menghadirkan sosok Bulan untuk sang Bintang Pemalu. karena sejatinya malam akan selalu mengijinkan Bulan bersandingan dengan Bintang.

Tapi entah mengapa, aku tak pernah memiliki kesempatan untuk menuangkan itu semua kedalam lanjutan ceritaku, waktu bergulir lebih cepat, berlomba-lomba dengan kegiatanku yang semakin padat, yah, hingga akhirnya cerita itu tetap menjadi misteri.

Senin, 12 November 2012

Matahari dan Bintang Pemalu (Introduction)

Siang dibulan ramadhan itu begitu terik, sang surya bertengger menebar sinar ke pelosok bumi.
Tapi semangat para Mahasiswa pertukaran pelajar itu tak kalah membara. Mereka begitu antusias
berkenalan satu sama lain.Mereka berasal dari negara yang berbeda-beda.
Tera begitu bersemangat hari itu, dengan ramah dan hangat ia berkenalan dengan teman-teman
barunya. Lalu datang seorang lelaki dalam langkah malu-malu menghampirinya.

“Hai..”  sapanya dengan senyum ragu. 
“Halo”
“Are you Indonesian?” menunjuk nametag yang dikenakan Tera.
“Yes, im from Bandung, what about you?” jawabnya hangat.
“Saya dari jogja. tolong isi lembar identitasnya  ya,” sambil menunduk malu.
“oh iya ini tukeran aja sama punya gue”
“iya” 
Selang 3 menit mereka bertukaran lembar identitasnya,
“Nama lo pico? WAW! Kebetulan banget yaaa!!”
“Iya, hehe, kamu tera?” 
“iya, hahaha. Amazing banget, gue kira Cuma nama gue doang yang asalnya dr notasi angka. 
Dan yang lebih waw nya itu, nama gue “tera” yang artinya 10 pangkat 12. Dan nama lo Pico yang
artinya 10 pangkat minus 12. itu artinya kalo Pico dikali Tera hasilnya sama dengan SATU! iya SATU!!! Jangan-jangan ortu gue janjian lagi sama ortu lo, hahaha. Atau engga
KITA JODOH! wahahahaha” jelas Tera dengan antusias diiringi dengan tawanya yang bersinar.

“Hahahaha. Ada-ada aja” pico membalasnya dengan tawa kecil di wajahnya yang merengut malu.
“hahaha, I wanna talk much longer, but we have to do our  task, right,? glad to know you, see you” tera
pergi sambil melambaikan tangannya.
“see you” membalas lambaian tangan tera.
     ***
 Siang yang cerah itu berganti shift dengan malam yang begitu damai, pico kini sedang duduk di
balkon apartemennya, dia begitu bahagia hari ini, dia ingin bercerita semua kejadian yang ia alami hari
ini pada sahabat terbaiknya, Bintang.

Bintang….
Hari ini aku bertemu matahari,
Matahari itu begitu bersinar,
Matahari itu begitu hangat, 
Ia penuh senyum, canda, dan juga makna.
Sinarnya  mampu menghidupkan jiwa yang telah lama mati.
Aku tak mampu menatapnya lebih lama.
Sinarnya terlalu terang.
Aku tak mampu terlalu dekat dengannya,
Dia terlalu hangat.
Aku hanya mampu melihatnya dari jauh.
Setidaknya aku dapat merasakan sedikit hangatnya.
Seandainya benar kita adalah jodoh.
Seandainya benar kita bisa menjadi satu.
Seandainya benar…
Seandainya. 

***

Masa orientasi telah usai, Pico dan Tera tak pernah bertemu lagi,  Pico kehilangan mataharinya.
Hari ini hari pertama kuliah, 
Pico datang terlambat 15 menit, karena ia kesulitan mencari ruangan kelasnya, saat sampai di depan
pintu kelas, ternyata sudah ada dosen didalam ruangan kelas itu. Perasaan senang dan takut
berkolaborasi dengan hebatnya dalam dimensi Pico. Lalu ia masuk, meminta maaf kepada dosennya
karna datang telat, lalu ia mencari tempat duduk yang kosong.
Dan beruntungnya ia mendapat tempat duduk kosong di pojok kiri paling depan. Dia melihat teman-
teman sekelasnya, betapa terkejutnya ia melihat "Matahari" duduk di pojok kanan depan. Berjarak
7 kursi darinya. Dia senang bukan main melihat Tera. 
Dia tak berani menoleh kearah Tera, dia berusaha berkonsentrasi dengan kuliah perdananya. 
Matanya tajam menatap sang dosen, tapi pelupuk matanya berusaha mencari sinar itu. DAPAT! itu dia Sinar yang ia cari! sinar yang berhasil meradiasi dimensi Pico.
Dari sini aku dapat melihat sinar itu
Sinar yang membuat semuanya begitu “Hidup”
Dari sini, dipelupuk mata ini.
     ***

Kuliah usai, Pico bergegas pulang, lalu suara itu memanggilnya, suara yang sedari kemarin ia rindukan.
“Pico?”  Tanya Tera Heran
“Hei Tera.”  Membalas dengan senyum ragu
“Arsitektur  juga? Tadi  telat ya? haha”
“iya. Hehe.  Samaan ya” jawabnya dengan nada malu-malu
“ih iya, asik banget nih sekelas sama orang  jogja ” goda Tera.
“ saya juga seneng bisa sekelas sama Tera.” Balas Pico terbata-bata “ oh iya saya duluan ya, saya
mau ada urusan,  bye”

 Pico bergegas pergi ke Gereja terdekat dari apartemennya. Pico adalah seorang katolik. Dia begitu
taat dengan agama yang dipeluknya. Dia datang ke gereja bukan hanya di waktu minggu, tapi setiap
saat dia merindukan Tuhannya.
     ***

Malam yang damai, selalu mengingatkannya dengan sosok wanita berjilbab yang belakangan ini getol
menabur senyum diwajah Pico, ya Tera, lagi-lagi si Matahari itu.

Bintang aku ingin menjadi sepertimu.
Agar aku bisa berada lebih dekat dengan Matahari, 
Agar aku bisa melihat Matahari ku setiap saat.
Walau Matahari tak selalu menyadari keberadaanku.
Walau Matahari tak selalu melihat sinarku
Aku tak butuh pengakuan atas kehadiranku.
Aku hanya ingin bersama Matahari.
Hanya itu.
      ***

Semakin hari mereka semakin akrab, namun Pico masih saja kaku dan malu-malu. Tera sangat suka
menggodanya dengan candaan-candaan khasnya. Pico selalu membantu Tera, apapun dia lakukan
untuk Tera.  Dia tak pernah sedekat ini dengan wanita. Harinya semakin hidup. Bersama Tera ia
berjuang menggapai cita-cita mereka untuk menjadi Arsitek Handal.

Siang itu mereka duduk bersantai dibawah pohon rindang, setelah belajar bersama, mereka bersantai
sejenak.
“kamu kenapa ngambil arsitektur?” Tanya Tera.
“mau aja hehe, kalau tera?” tanyanya lagi.
“Cita-cita dari SD, hehehehe” jawab Tera cengengesan
“wah hebat, jarang anak SD mau jadi arsitek”
“soalnya waktu kecil bosen gambar gunung terus. Yaudah deh nyoba-nyoba gambar rumah,
terinspirasi dari rumah tetanggaku yang baru dibangun.  eh taunya malah dapet nilai 9, biasanya kalo
gambar gunung paling banter dapet 7 hahahaha.” Jelasnya penuh tawa.
“hahaha, bisa begitu ya, sesuatu yang kecil justru bermakna raksasa.” Ungkap Pico terheran-heran.
“iya bener banget, semenjak itu setiap disuruh gambar pasti gambar rumah deh, terus, suka iseng
gambar-gambar pola rumah gitu kaya yang dimajalah-majalah.  Wkwkwk” 
“dasar anak kecil aneh hahaha.” Ledek Pico
“ye biarin kreatif namanya. Emangnya kamu MKKB”
“apatuh MKKB?” Tanya Pico heran.
“Masa Kecil Kurang Bahagia. wkwkwk” ledek Tera, tertawa terbahak-bahak.
“yeee anak aneh” balas Pico, mencibir.
Suasana siang itu begitu hangat, sudah lama Pico tak tertawa selepas itu, ia sudah lupa kapan
terakhir kali ia bercanda dan tertawa.
     ***

Balkon Apartement.
10.00PM  
Bintang,
Tidak kah kamu mendengar tawaku tadi siang?
Tidakkah kamu melihat sahabatmu ini begitu bahagia ?
Dia memperbaiki kotak tertawaku.
Dia membuat semuanya begitu bebas, lepas.
Dan membuatku Bahagia.
Bintang. Kini aku telah menjadi sepertimu, 
Menjadi bintang yang bersinar, 
Biarkan aku tetap menjadi sepertimu. 
Jangan biarkan aku jatuh.
Aku tak ingin jadi bintang jatuh, 
Aku takut jatuh. 

***

Minggu, 09 September 2012

Begitu dekat dengan "Kematian" (JILID 2)

buat yang udah baca postingan sebelumnya pasti ga asing sama judul ini.
dan saya cuma mau negesin kalau tujuan saya nulis ini tuh bukan untuk nakut-nakutin atau cari sensasi,
tujuan saya itu buat ngingetin kita semua kalau kematian itu pasti akan datang, cuma masalah waktunya aja yang misterius.
dan satu hal lagi, kematian itu ga perlu ditakutin, selama urusan dunia kita beriringan dengan urusan akhirat. tetap bermimpi dan berencana, karena Tuhan itu suka sama orang yang mau berusaha :).

yap prolognya sampai situ aja langsung kita ke TKP! cekidot!


cerita ini udah agak lama,  tepatnya beberapa minggu sebelum lebaran.

hari itu, aku seperti biasa menjaga warung dirumahku.
lalu ada pembeli yang tak biasa,
yap mereka sekeluarga, menggunakan mobil  X.
lalu aku terkejut, ternyata yang datang untuk membeli adalah Om Ucok dan keluarganya.
Om ucok itu dulu dagang di dekat rumahku sewaktu aku kecil.
dia itu orangnya baik dan ramah. Om ucok itu pekerja keras.
tapi setelah dia menikah dia memutuskan untuk tidak berdagang dan beralih ke usaha yang lain.
semenjak ia menikah aku sudah jarang melihatnya, karena ia juga pindah rumah di daerah pangkalan 2. Ia menikah dengan mba Devi dan mempunyai anak perempuan yang amat lucu dan imut.

om Ucok membeli minuman dirumahku, aku yang melayaninya, mukanya yang berkulit gelap itu terlihat lebih bersinar, sudah lama sekali aku tak melihat pria bersahaja ini. aku tak sempat bertanya apapun padanya, pikirku mereka sekeluarga ingin pulang kampung ke Medan, tapi rasanya masih lama sekali lebaran tiba.
ah bukan urusanku.
hari berlalu.
***

aku menjalani puasa ku hari demi hari dengan bersemangat karena bulan ramadan ini belum tentu bisa aku nikmati ditahun depan. amalan demi amalan aku jalani semata-mata untuk mencari ridho-Nya.

***
sekitar satu minggu kemudian
pagi itu begitu riuh.
saudara ku datang ke rumahku,
dia membawa kabar.,
katanya pada malam hari, seorang laki-laki menjadi korban tabrak lari di daerah pangkalan 1B.
kepalanya pecah, dan kabarnya mayatnya sempat dibiarkan ditengah jalan karena tidak ada yang berani menolong, laki-laki itu membawa sepeda motor, menuju ke gang subur, gang rumahku.
dan mirisnya, Laki-laki itu adalah om Ucok. damn.... seketika itu aku terdiam.
orang yang kemarin beli minuman dirumahku sudah meninggal.!!!
aku masih tak percaya,
kabarnya ia menuju ke arah gang ku, karena ia ingin ke rumah bapa beni untuk menyewa mobil yang kemarin dipakainya, ia ingin menyewa mobil itu untuk pulang kampung ke Medan.
siapa yang menyangka lebaran ini dia tak pulang ke Medan, tetapi ia Pulang ke Rahmatullah.

innailahi wa innaillahi rodjiun,
semoga amal ibadah alhamrum diterima disisinya, dan diampuni dosa-dosanya. aamiin :")

***
satu hal lagi yang perlu sama-sama kita renungkan.
kadang saat kita sedang emosi, kita sering mengeluarkan perkataan-perkataan yang bisa jadi adalah doa.
seperti ini, "gak punya otak lu",
coba anda bayangkan, jika setelah anda berkata seperti itu, esok harinya orang tersebut kecelakaan lalu kepalanya hancur, dan otaknya hancur lebur.

boleh jadi anda menjadi orang yang paling merasa bersalah.
Jaga lisan kita, Jaga perbuatan kita :")

Jumat, 07 September 2012

Begitu dekat dengan "Kematian"

semua yang hidup pasti akan mati.
aku, kamu, dia, mereka, semuanya.
boleh jadi, kematian itu datang saat aku sedang menulis blog ini, atau satu menit kemudian, satu jam kemudian, satu hari kemudian, satu minggu kemudian, satu bulan kemudian, atau bisa jadi satu tahun kemudian.
tidak ada yang tau.
tapi Dia Maha Tau.
saat bicara tentang kematian banyak orang yang "men-deny" hal itu,
beranggapan bahwa usianya masih muda, masih punya banyak waktu untuk bertaubat.

saya punya sedikit cerita,

senin kemarin adalah kuliah perdana saya, kalian bisa baca cerita sebelumnya di arsip sebelum postingan ini. ( http://www.buana1995.co.cc/2012/09/kuliah-perdanaku-d.html )
saya, naik kosub jonggol-Pulogadung.
saya duduk di depan dekat supir.
disebelah saya ada 3 orang siswa smp X.
saya lihat mereka tidak sebaya, sepertinya hanya selisis satu tahun dan kulit mereka putih bersih.
dan wajah mereka mirip. mungkin mereka adik kaka. pikir saya.
lalu tiba didepan gang smp X. mereka turun, lalu entah mengapa saya merasa penasaran saya terus melihat kebelakang. tapi mereka sudah tdk terlihat karena mobil sudah berjalan menjauh.
***
beberapa hari kemudian.
ayah saya bercerita tentang kecelakaan didepan sinar abadi, toko kimia. ayah saya menceritakannya dengan sangat mengenaskan.
tapi hal tersebut sangat sering terjadi disana, saya tidak terlalu serius menanggapi.
***

hari ini, jum'at 7 september 2012.
teman saya bercerita ttg kecelaan tsb katanya dia melihat persis kejadian itu, dia bilang kejadian itu masuk koran kompas.
dia bercerita lebih jelas,
katanya yang meninggal itu 3 orang. 2 meninggal di tempat, 1 lagi meninggal di rs.
mereka bertiga rumahnya di perumahan daerah cileungsi.,
dan mereka sekolah di SMP X!
mereka baru saja dibelikan motor baru oleh ayahnya yang bekerja sbg supir angkot.
mereka sekolah disana karena beasiswa, mereka itu anak smp dan adik kaka. umurnya selisih sekitar 1 tahun. mereka berkulit putih.
mereka meninggal mengenaskan.

seketika itu saya jadi teringat anak smp yang duduk disamping saya pada hari senin itu.
saya naik bus jonggol-pulogadung. bus itu lewat daerah cileungsi.
dan mereka baru saja dibelikan motor, artinya, sebelumnya mereka tdk pernah membawa motor.
 dan mereka selisih 1 tahun. mereka sama-sama berkulit putih. dan mereka adik kaka. dan mereka sama-sama 3 orang. dan anak dari daerah cileungsi yang SMP nya di SMP X itu jarang sekali, karena memang jaraknya cukup jauh untuk anak kecil.

coba anda simpulkan sendiri,

kemungkinan besar, anak-anak yang duduk disebelah saya waktu itu adalah anak-anak yang meninggal karena kecelakaan.
semoga saja kemungkinan saya ini tidak benar. semoga mereka masih dalam keadaan sehat.
***

kadang kita tidak sadar kita begitu dekat dengan kematian,
bisa jadi saat ini kita tertawa terbahak-bahak, tapi siapa yang tau besok?
besok itu misteri.
entah masih ada esok atau tidak untuk kita.
bersyukurlah..
saat ini kita masih diberi kehidupan oleh Tuhan,
berilah makna hidupmu bukan hanya untuk dirimu tapi juga untuk sekitarmu.

hidup ini fana, akhirat itu kekal.
hidup ini bekal untuk akhirat kelak. 
berbuat baik, selama kita bisa, ga akan rugi kok! :")
mari bertaubat, mumpung nafas masih digengam.
sekian! 
wassalam. semoga bermanfaat.