Minggu, 05 Mei 2013
Kamis, 18 April 2013
Menunggu.
apakah aku sedang menunggu?
lantas apa yang aku tunggu?
kamu?
bukan...
waktu?
bisa jadi.
lantas waktu untuk apa?
waktu yang akan membawa semuanya menjadi indah.
indah?
iya, bersamamu, bahagia, selamanya, indah bukan?
seandainya keindahan itu hadir semudah berucap, "indah".
tidak semudah itu,
ini serumit berucap, "indah" dengan bahasa yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.
aku sudah terlalu lama menunggu,
aku sering lelah, dan ingin menyerah.
aku sudah temukan banyak yang "mirip" sepertimu.
tapi mereka bukan "kamu".
lantas mengapa aku tetap menunggu?
karena cinta?
aku tak tau.
karena sayang?
aku tak tau.
bodoh bukan?
aku menunggu dalam kurun waktu yang bukan sebentar, untuk hal yang tidak aku ketahui alasannya.
dan yang lebih bodohnya lagi,
aku menunggu orang yang tidak pernah tau kalau dia sedang aku tunggu. HA HA HA.
bodoh.
coba tanya, siapa yang paling lama menunggumu?
mungkin akulah orangnya.
haha.
aku sering lelah dan ingin menyerah.
lelah berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang kamu.
lelah berpura-pura tidak peduli terhadapmu.
lelah berpura-pura tidak menyukaimu.
lelah berpura-pura dingin terhadapmu.
lelah? sangat lelah.
tapi. coba tanya,
apa yang aku lupa dari dirimu?
apa yang aku tidak tau tentang kisahmu?
haha lelah tapi tidak ingin menyerah. bodoh.
seandainya kamu menyadari semua ini.
aku takkan selelah ini.
aku takkan sesakit ini.
aku takkan tersesat sejauh ini.
apakah ini semua salahmu?
bukan, sedaridulu memang aku yang tak menginginkan kamu "sadar" akan hal ini.
sampai kapan seperti ini?
sampai logika menapar mundur harapanku.
sampai aku benar-benar menyerah.
sampai aku lupa kalau aku sedang menunggu.
lantas apa yang aku tunggu?
kamu?
bukan...
waktu?
bisa jadi.
lantas waktu untuk apa?
waktu yang akan membawa semuanya menjadi indah.
indah?
iya, bersamamu, bahagia, selamanya, indah bukan?
seandainya keindahan itu hadir semudah berucap, "indah".
tidak semudah itu,
ini serumit berucap, "indah" dengan bahasa yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.
aku sudah terlalu lama menunggu,
aku sering lelah, dan ingin menyerah.
aku sudah temukan banyak yang "mirip" sepertimu.
tapi mereka bukan "kamu".
lantas mengapa aku tetap menunggu?
karena cinta?
aku tak tau.
karena sayang?
aku tak tau.
bodoh bukan?
aku menunggu dalam kurun waktu yang bukan sebentar, untuk hal yang tidak aku ketahui alasannya.
dan yang lebih bodohnya lagi,
aku menunggu orang yang tidak pernah tau kalau dia sedang aku tunggu. HA HA HA.
bodoh.
coba tanya, siapa yang paling lama menunggumu?
mungkin akulah orangnya.
haha.
aku sering lelah dan ingin menyerah.
lelah berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang kamu.
lelah berpura-pura tidak peduli terhadapmu.
lelah berpura-pura tidak menyukaimu.
lelah berpura-pura dingin terhadapmu.
lelah? sangat lelah.
tapi. coba tanya,
apa yang aku lupa dari dirimu?
apa yang aku tidak tau tentang kisahmu?
haha lelah tapi tidak ingin menyerah. bodoh.
seandainya kamu menyadari semua ini.
aku takkan selelah ini.
aku takkan sesakit ini.
aku takkan tersesat sejauh ini.
apakah ini semua salahmu?
bukan, sedaridulu memang aku yang tak menginginkan kamu "sadar" akan hal ini.
sampai kapan seperti ini?
sampai logika menapar mundur harapanku.
sampai aku benar-benar menyerah.
sampai aku lupa kalau aku sedang menunggu.
Sabtu, 09 Maret 2013
Minggu, 10 Februari 2013
Barangkali Cinta
Karya Dewi Lestari
Barangkali cinta… jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu dan engkau beriak karenanya. Darahku dan darahmu, terkunci dalam nadi yang berbeda, namun berpadu dalam badai yang sama.
Barangkali cinta… jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku dan aku terbakar karenanya. Napasmu dan napasku, bangkit dari rongga dada yang berbeda, namun lebur dalam bara yang satu.
Barangkali cinta… jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu dan engkau memahamiku seketika. Kulitmu dan kulitku, membalut dua tubuh yang berbeda, namun berbagi bahasa yang serupa.
Barangkali cinta… jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa dan aku dapati rumah yang kucari. Matamu dan mataku, tersimpan dalam kelopak yang terpisah, namun bertemu dalam setapak yang searah.
Barangkali cinta… karena darahku, napasku, kulitku, dan tatap mataku, kehilangan semua makna dan gunanya jika tak ada engkau di seberang sana.
Barangkali cinta… karena darahmu, napasmu, kulitmu, dan tatap matamu, kehilangan semua perjalanan dan tujuan jika tak ada aku di seberang sini.
Pastilah cinta… yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu, dan menjembatani semuanya demi memahami dirinya sendiri.
Barangkali cinta… jika darahku mendesirkan gelombang yang tertangkap oleh darahmu dan engkau beriak karenanya. Darahku dan darahmu, terkunci dalam nadi yang berbeda, namun berpadu dalam badai yang sama.
Barangkali cinta… jika napasmu merambatkan api yang menjalar ke paru-paruku dan aku terbakar karenanya. Napasmu dan napasku, bangkit dari rongga dada yang berbeda, namun lebur dalam bara yang satu.
Barangkali cinta… jika ujung jemariku mengantar pesan yang menyebar ke seluruh sel kulitmu dan engkau memahamiku seketika. Kulitmu dan kulitku, membalut dua tubuh yang berbeda, namun berbagi bahasa yang serupa.
Barangkali cinta… jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa dan aku dapati rumah yang kucari. Matamu dan mataku, tersimpan dalam kelopak yang terpisah, namun bertemu dalam setapak yang searah.
Barangkali cinta… karena darahku, napasku, kulitku, dan tatap mataku, kehilangan semua makna dan gunanya jika tak ada engkau di seberang sana.
Barangkali cinta… karena darahmu, napasmu, kulitmu, dan tatap matamu, kehilangan semua perjalanan dan tujuan jika tak ada aku di seberang sini.
Pastilah cinta… yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu, dan menjembatani semuanya demi memahami dirinya sendiri.
Selasa, 05 Februari 2013
Lalu Apa?
sekitar pukul 7 malam.
ya seperti biasanya, aku pulang lebih larut setiap hari jum'at, karena harus mengikuti kuliah di jam ke-5.
aku pulang naik metromini menuju rumah, aku duduk didekat kaca mobil.
rintik hujan malam itu melengkapi suasana gundah yang ku rasa.
dari balik kaca aku melihat pemandangan yang tak asing, tapi selalu menarik untukku.
ya, ramainya jakarta, lalu lalang kendaraan, lampu-lampu yang saling berpautan, pedagang-pedagang yang tak henti mengais rejeki, wajah-wajah muram pesisir kota, dan segalanya tentang Jakarta malam.
ya, sederhana namun penuh makna.
suasana ini kembali mengingatkanku pada tokoh-tokoh fiktif ciptaanku, Matahari dan Bintang Pemalu.
cerita yang amat klasik, namun tak pernah ada solusi terbijak untuk mengatasinya, cinta beda agama.
Aku ingin membuat akhir yang berbeda dengan cerita-cerita yang biasanya, aku sudah menemukannya,
namun aneh, setiap saat jemariku ingin memulai mengetik satu demi satu huruf, menciptakan kata-kata sederhana, aku tak bisa. aku tak tega membuat akhir yang tragis untuk cerita ini, aku tak pernah tega membuat sang Bintang Pemalu terjatuh ke permukaan bumi, atau bahkan terperosok ke dalam Blackhole. Begitupun dengan Matahari, aku tak tega membuat suatu gerhana atau lebih parahnya suatu Badai Matahari. Lalu aku memutuskan untuk menghadirkan sosok Bulan untuk sang Bintang Pemalu. karena sejatinya malam akan selalu mengijinkan Bulan bersandingan dengan Bintang.
Tapi entah mengapa, aku tak pernah memiliki kesempatan untuk menuangkan itu semua kedalam lanjutan ceritaku, waktu bergulir lebih cepat, berlomba-lomba dengan kegiatanku yang semakin padat, yah, hingga akhirnya cerita itu tetap menjadi misteri.
ya seperti biasanya, aku pulang lebih larut setiap hari jum'at, karena harus mengikuti kuliah di jam ke-5.
aku pulang naik metromini menuju rumah, aku duduk didekat kaca mobil.
rintik hujan malam itu melengkapi suasana gundah yang ku rasa.
dari balik kaca aku melihat pemandangan yang tak asing, tapi selalu menarik untukku.
ya, ramainya jakarta, lalu lalang kendaraan, lampu-lampu yang saling berpautan, pedagang-pedagang yang tak henti mengais rejeki, wajah-wajah muram pesisir kota, dan segalanya tentang Jakarta malam.
ya, sederhana namun penuh makna.
suasana ini kembali mengingatkanku pada tokoh-tokoh fiktif ciptaanku, Matahari dan Bintang Pemalu.
cerita yang amat klasik, namun tak pernah ada solusi terbijak untuk mengatasinya, cinta beda agama.
Aku ingin membuat akhir yang berbeda dengan cerita-cerita yang biasanya, aku sudah menemukannya,
namun aneh, setiap saat jemariku ingin memulai mengetik satu demi satu huruf, menciptakan kata-kata sederhana, aku tak bisa. aku tak tega membuat akhir yang tragis untuk cerita ini, aku tak pernah tega membuat sang Bintang Pemalu terjatuh ke permukaan bumi, atau bahkan terperosok ke dalam Blackhole. Begitupun dengan Matahari, aku tak tega membuat suatu gerhana atau lebih parahnya suatu Badai Matahari. Lalu aku memutuskan untuk menghadirkan sosok Bulan untuk sang Bintang Pemalu. karena sejatinya malam akan selalu mengijinkan Bulan bersandingan dengan Bintang.
Tapi entah mengapa, aku tak pernah memiliki kesempatan untuk menuangkan itu semua kedalam lanjutan ceritaku, waktu bergulir lebih cepat, berlomba-lomba dengan kegiatanku yang semakin padat, yah, hingga akhirnya cerita itu tetap menjadi misteri.
My Blog is Back!!!
hei readers,
lo semua harus tau nih, gue seneng banget ya blog gue balik, yaaa walopun dengan domain yang ini,
sokey lah yah, yang penting gue bisa nyampah lagi di blog, gue kangeeeeen banget mau ngeshare curhatan-curhatan sampah gue, hahhaha.
banyak banget yang gue alamin selama gue ga kehilangan blog ini, alhasil gue move on sebentar ke www.buana1995.wordpress.com saking galaunya gatau mau nyampah kemana, hahha.
tapi wordpress itu terlalu elegan yah buat gue kasih curhatan sampah gue jadinya gue cuman ngeshare puisi-puisi galau gidudeeeeyh.
hahha.
udah deh ah, my blog is back, tong sampah gue balik, sahabat terbaik gue..... aaaaaa miss ya so damn much!
gue tau lo juga kangen kan sama gue blog? udeh ngaku aja blog, come to mama, hug tight {}
lo semua harus tau nih, gue seneng banget ya blog gue balik, yaaa walopun dengan domain yang ini,
sokey lah yah, yang penting gue bisa nyampah lagi di blog, gue kangeeeeen banget mau ngeshare curhatan-curhatan sampah gue, hahhaha.
banyak banget yang gue alamin selama gue ga kehilangan blog ini, alhasil gue move on sebentar ke www.buana1995.wordpress.com saking galaunya gatau mau nyampah kemana, hahha.
tapi wordpress itu terlalu elegan yah buat gue kasih curhatan sampah gue jadinya gue cuman ngeshare puisi-puisi galau gidudeeeeyh.
hahha.
udah deh ah, my blog is back, tong sampah gue balik, sahabat terbaik gue..... aaaaaa miss ya so damn much!
gue tau lo juga kangen kan sama gue blog? udeh ngaku aja blog, come to mama, hug tight {}
Senin, 12 November 2012
Matahari dan Bintang Pemalu (Introduction)
Siang dibulan ramadhan itu begitu terik, sang surya bertengger menebar sinar ke pelosok bumi.
Tapi semangat para Mahasiswa pertukaran pelajar itu tak kalah membara. Mereka begitu antusias
berkenalan satu sama lain.Mereka berasal dari negara yang berbeda-beda.
Tera begitu bersemangat hari itu, dengan ramah dan hangat ia berkenalan dengan teman-teman
barunya. Lalu datang seorang lelaki dalam langkah malu-malu menghampirinya.
“Hai..” sapanya dengan senyum ragu.
“Halo”
“Are you Indonesian?” menunjuk nametag yang dikenakan Tera.
“Yes, im from Bandung, what about you?” jawabnya hangat.
“Saya dari jogja. tolong isi lembar identitasnya ya,” sambil menunduk malu.
“oh iya ini tukeran aja sama punya gue”
“iya”
Selang 3 menit mereka bertukaran lembar identitasnya,
“Nama lo pico? WAW! Kebetulan banget yaaa!!”
“Iya, hehe, kamu tera?”
“iya, hahaha. Amazing banget, gue kira Cuma nama gue doang yang asalnya dr notasi angka.
Dan yang lebih waw nya itu, nama gue “tera” yang artinya 10 pangkat 12. Dan nama lo Pico yang
artinya 10 pangkat minus 12. itu artinya kalo Pico dikali Tera hasilnya sama dengan SATU! iya SATU!!! Jangan-jangan ortu gue janjian lagi sama ortu lo, hahaha. Atau engga
KITA JODOH! wahahahaha” jelas Tera dengan antusias diiringi dengan tawanya yang bersinar.
“Hahahaha. Ada-ada aja” pico membalasnya dengan tawa kecil di wajahnya yang merengut malu.
“hahaha, I wanna talk much longer, but we have to do our task, right,? glad to know you, see you” tera
pergi sambil melambaikan tangannya.
“see you” membalas lambaian tangan tera.
***
Siang yang cerah itu berganti shift dengan malam yang begitu damai, pico kini sedang duduk di
balkon apartemennya, dia begitu bahagia hari ini, dia ingin bercerita semua kejadian yang ia alami hari
ini pada sahabat terbaiknya, Bintang.
Bintang….
Hari ini aku bertemu matahari,
Matahari itu begitu bersinar,
Matahari itu begitu hangat,
Ia penuh senyum, canda, dan juga makna.
Sinarnya mampu menghidupkan jiwa yang telah lama mati.
Aku tak mampu menatapnya lebih lama.
Sinarnya terlalu terang.
Aku tak mampu terlalu dekat dengannya,
Dia terlalu hangat.
Aku hanya mampu melihatnya dari jauh.
Setidaknya aku dapat merasakan sedikit hangatnya.
Seandainya benar kita adalah jodoh.
Seandainya benar kita bisa menjadi satu.
Seandainya benar…
Seandainya.
***
Masa orientasi telah usai, Pico dan Tera tak pernah bertemu lagi, Pico kehilangan mataharinya.
Hari ini hari pertama kuliah,
Pico datang terlambat 15 menit, karena ia kesulitan mencari ruangan kelasnya, saat sampai di depan
pintu kelas, ternyata sudah ada dosen didalam ruangan kelas itu. Perasaan senang dan takut
berkolaborasi dengan hebatnya dalam dimensi Pico. Lalu ia masuk, meminta maaf kepada dosennya
karna datang telat, lalu ia mencari tempat duduk yang kosong.
Dan beruntungnya ia mendapat tempat duduk kosong di pojok kiri paling depan. Dia melihat teman-
teman sekelasnya, betapa terkejutnya ia melihat "Matahari" duduk di pojok kanan depan. Berjarak
7 kursi darinya. Dia senang bukan main melihat Tera.
Dia tak berani menoleh kearah Tera, dia berusaha berkonsentrasi dengan kuliah perdananya.
Matanya tajam menatap sang dosen, tapi pelupuk matanya berusaha mencari sinar itu. DAPAT! itu dia Sinar yang ia cari! sinar yang berhasil meradiasi dimensi Pico.
Dari sini aku dapat melihat sinar itu
Sinar yang membuat semuanya begitu “Hidup”
Dari sini, dipelupuk mata ini.
***
Kuliah usai, Pico bergegas pulang, lalu suara itu memanggilnya, suara yang sedari kemarin ia rindukan.
“Pico?” Tanya Tera Heran
“Hei Tera.” Membalas dengan senyum ragu
“Arsitektur juga? Tadi telat ya? haha”
“iya. Hehe. Samaan ya” jawabnya dengan nada malu-malu
“ih iya, asik banget nih sekelas sama orang jogja ” goda Tera.
“ saya juga seneng bisa sekelas sama Tera.” Balas Pico terbata-bata “ oh iya saya duluan ya, saya
mau ada urusan, bye”
Pico bergegas pergi ke Gereja terdekat dari apartemennya. Pico adalah seorang katolik. Dia begitu
taat dengan agama yang dipeluknya. Dia datang ke gereja bukan hanya di waktu minggu, tapi setiap
saat dia merindukan Tuhannya.
***
Malam yang damai, selalu mengingatkannya dengan sosok wanita berjilbab yang belakangan ini getol
menabur senyum diwajah Pico, ya Tera, lagi-lagi si Matahari itu.
Bintang aku ingin menjadi sepertimu.
Agar aku bisa berada lebih dekat dengan Matahari,
Agar aku bisa melihat Matahari ku setiap saat.
Walau Matahari tak selalu menyadari keberadaanku.
Walau Matahari tak selalu melihat sinarku
Aku tak butuh pengakuan atas kehadiranku.
Aku hanya ingin bersama Matahari.
Hanya itu.
***
Semakin hari mereka semakin akrab, namun Pico masih saja kaku dan malu-malu. Tera sangat suka
menggodanya dengan candaan-candaan khasnya. Pico selalu membantu Tera, apapun dia lakukan
untuk Tera. Dia tak pernah sedekat ini dengan wanita. Harinya semakin hidup. Bersama Tera ia
berjuang menggapai cita-cita mereka untuk menjadi Arsitek Handal.
Siang itu mereka duduk bersantai dibawah pohon rindang, setelah belajar bersama, mereka bersantai
sejenak.
“kamu kenapa ngambil arsitektur?” Tanya Tera.
“mau aja hehe, kalau tera?” tanyanya lagi.
“Cita-cita dari SD, hehehehe” jawab Tera cengengesan
“wah hebat, jarang anak SD mau jadi arsitek”
“soalnya waktu kecil bosen gambar gunung terus. Yaudah deh nyoba-nyoba gambar rumah,
terinspirasi dari rumah tetanggaku yang baru dibangun. eh taunya malah dapet nilai 9, biasanya kalo
gambar gunung paling banter dapet 7 hahahaha.” Jelasnya penuh tawa.
“hahaha, bisa begitu ya, sesuatu yang kecil justru bermakna raksasa.” Ungkap Pico terheran-heran.
“iya bener banget, semenjak itu setiap disuruh gambar pasti gambar rumah deh, terus, suka iseng
gambar-gambar pola rumah gitu kaya yang dimajalah-majalah. Wkwkwk”
“dasar anak kecil aneh hahaha.” Ledek Pico
“ye biarin kreatif namanya. Emangnya kamu MKKB”
“apatuh MKKB?” Tanya Pico heran.
“Masa Kecil Kurang Bahagia. wkwkwk” ledek Tera, tertawa terbahak-bahak.
“yeee anak aneh” balas Pico, mencibir.
Suasana siang itu begitu hangat, sudah lama Pico tak tertawa selepas itu, ia sudah lupa kapan
terakhir kali ia bercanda dan tertawa.
***
Balkon Apartement.
10.00PM
Bintang,
Tidak kah kamu mendengar tawaku tadi siang?
Tidakkah kamu melihat sahabatmu ini begitu bahagia ?
Dia memperbaiki kotak tertawaku.
Dia membuat semuanya begitu bebas, lepas.
Dan membuatku Bahagia.
Bintang. Kini aku telah menjadi sepertimu,
Menjadi bintang yang bersinar,
Biarkan aku tetap menjadi sepertimu.
Jangan biarkan aku jatuh.
Aku tak ingin jadi bintang jatuh,
Aku takut jatuh.
***
Tapi semangat para Mahasiswa pertukaran pelajar itu tak kalah membara. Mereka begitu antusias
berkenalan satu sama lain.Mereka berasal dari negara yang berbeda-beda.
Tera begitu bersemangat hari itu, dengan ramah dan hangat ia berkenalan dengan teman-teman
barunya. Lalu datang seorang lelaki dalam langkah malu-malu menghampirinya.
“Hai..” sapanya dengan senyum ragu.
“Halo”
“Are you Indonesian?” menunjuk nametag yang dikenakan Tera.
“Yes, im from Bandung, what about you?” jawabnya hangat.
“Saya dari jogja. tolong isi lembar identitasnya ya,” sambil menunduk malu.
“oh iya ini tukeran aja sama punya gue”
“iya”
Selang 3 menit mereka bertukaran lembar identitasnya,
“Nama lo pico? WAW! Kebetulan banget yaaa!!”
“Iya, hehe, kamu tera?”
“iya, hahaha. Amazing banget, gue kira Cuma nama gue doang yang asalnya dr notasi angka.
Dan yang lebih waw nya itu, nama gue “tera” yang artinya 10 pangkat 12. Dan nama lo Pico yang
artinya 10 pangkat minus 12. itu artinya kalo Pico dikali Tera hasilnya sama dengan SATU! iya SATU!!! Jangan-jangan ortu gue janjian lagi sama ortu lo, hahaha. Atau engga
KITA JODOH! wahahahaha” jelas Tera dengan antusias diiringi dengan tawanya yang bersinar.
“Hahahaha. Ada-ada aja” pico membalasnya dengan tawa kecil di wajahnya yang merengut malu.
“hahaha, I wanna talk much longer, but we have to do our task, right,? glad to know you, see you” tera
pergi sambil melambaikan tangannya.
“see you” membalas lambaian tangan tera.
***
Siang yang cerah itu berganti shift dengan malam yang begitu damai, pico kini sedang duduk di
balkon apartemennya, dia begitu bahagia hari ini, dia ingin bercerita semua kejadian yang ia alami hari
ini pada sahabat terbaiknya, Bintang.
Bintang….
Hari ini aku bertemu matahari,
Matahari itu begitu bersinar,
Matahari itu begitu hangat,
Ia penuh senyum, canda, dan juga makna.
Sinarnya mampu menghidupkan jiwa yang telah lama mati.
Aku tak mampu menatapnya lebih lama.
Sinarnya terlalu terang.
Aku tak mampu terlalu dekat dengannya,
Dia terlalu hangat.
Aku hanya mampu melihatnya dari jauh.
Setidaknya aku dapat merasakan sedikit hangatnya.
Seandainya benar kita adalah jodoh.
Seandainya benar kita bisa menjadi satu.
Seandainya benar…
Seandainya.
***
Masa orientasi telah usai, Pico dan Tera tak pernah bertemu lagi, Pico kehilangan mataharinya.
Hari ini hari pertama kuliah,
Pico datang terlambat 15 menit, karena ia kesulitan mencari ruangan kelasnya, saat sampai di depan
pintu kelas, ternyata sudah ada dosen didalam ruangan kelas itu. Perasaan senang dan takut
berkolaborasi dengan hebatnya dalam dimensi Pico. Lalu ia masuk, meminta maaf kepada dosennya
karna datang telat, lalu ia mencari tempat duduk yang kosong.
Dan beruntungnya ia mendapat tempat duduk kosong di pojok kiri paling depan. Dia melihat teman-
teman sekelasnya, betapa terkejutnya ia melihat "Matahari" duduk di pojok kanan depan. Berjarak
7 kursi darinya. Dia senang bukan main melihat Tera.
Dia tak berani menoleh kearah Tera, dia berusaha berkonsentrasi dengan kuliah perdananya.
Matanya tajam menatap sang dosen, tapi pelupuk matanya berusaha mencari sinar itu. DAPAT! itu dia Sinar yang ia cari! sinar yang berhasil meradiasi dimensi Pico.
Dari sini aku dapat melihat sinar itu
Sinar yang membuat semuanya begitu “Hidup”
Dari sini, dipelupuk mata ini.
***
Kuliah usai, Pico bergegas pulang, lalu suara itu memanggilnya, suara yang sedari kemarin ia rindukan.
“Pico?” Tanya Tera Heran
“Hei Tera.” Membalas dengan senyum ragu
“Arsitektur juga? Tadi telat ya? haha”
“iya. Hehe. Samaan ya” jawabnya dengan nada malu-malu
“ih iya, asik banget nih sekelas sama orang jogja ” goda Tera.
“ saya juga seneng bisa sekelas sama Tera.” Balas Pico terbata-bata “ oh iya saya duluan ya, saya
mau ada urusan, bye”
Pico bergegas pergi ke Gereja terdekat dari apartemennya. Pico adalah seorang katolik. Dia begitu
taat dengan agama yang dipeluknya. Dia datang ke gereja bukan hanya di waktu minggu, tapi setiap
saat dia merindukan Tuhannya.
***
Malam yang damai, selalu mengingatkannya dengan sosok wanita berjilbab yang belakangan ini getol
menabur senyum diwajah Pico, ya Tera, lagi-lagi si Matahari itu.
Bintang aku ingin menjadi sepertimu.
Agar aku bisa berada lebih dekat dengan Matahari,
Agar aku bisa melihat Matahari ku setiap saat.
Walau Matahari tak selalu menyadari keberadaanku.
Walau Matahari tak selalu melihat sinarku
Aku tak butuh pengakuan atas kehadiranku.
Aku hanya ingin bersama Matahari.
Hanya itu.
***
Semakin hari mereka semakin akrab, namun Pico masih saja kaku dan malu-malu. Tera sangat suka
menggodanya dengan candaan-candaan khasnya. Pico selalu membantu Tera, apapun dia lakukan
untuk Tera. Dia tak pernah sedekat ini dengan wanita. Harinya semakin hidup. Bersama Tera ia
berjuang menggapai cita-cita mereka untuk menjadi Arsitek Handal.
Siang itu mereka duduk bersantai dibawah pohon rindang, setelah belajar bersama, mereka bersantai
sejenak.
“kamu kenapa ngambil arsitektur?” Tanya Tera.
“mau aja hehe, kalau tera?” tanyanya lagi.
“Cita-cita dari SD, hehehehe” jawab Tera cengengesan
“wah hebat, jarang anak SD mau jadi arsitek”
“soalnya waktu kecil bosen gambar gunung terus. Yaudah deh nyoba-nyoba gambar rumah,
terinspirasi dari rumah tetanggaku yang baru dibangun. eh taunya malah dapet nilai 9, biasanya kalo
gambar gunung paling banter dapet 7 hahahaha.” Jelasnya penuh tawa.
“hahaha, bisa begitu ya, sesuatu yang kecil justru bermakna raksasa.” Ungkap Pico terheran-heran.
“iya bener banget, semenjak itu setiap disuruh gambar pasti gambar rumah deh, terus, suka iseng
gambar-gambar pola rumah gitu kaya yang dimajalah-majalah. Wkwkwk”
“dasar anak kecil aneh hahaha.” Ledek Pico
“ye biarin kreatif namanya. Emangnya kamu MKKB”
“apatuh MKKB?” Tanya Pico heran.
“Masa Kecil Kurang Bahagia. wkwkwk” ledek Tera, tertawa terbahak-bahak.
“yeee anak aneh” balas Pico, mencibir.
Suasana siang itu begitu hangat, sudah lama Pico tak tertawa selepas itu, ia sudah lupa kapan
terakhir kali ia bercanda dan tertawa.
***
Balkon Apartement.
10.00PM
Bintang,
Tidak kah kamu mendengar tawaku tadi siang?
Tidakkah kamu melihat sahabatmu ini begitu bahagia ?
Dia memperbaiki kotak tertawaku.
Dia membuat semuanya begitu bebas, lepas.
Dan membuatku Bahagia.
Bintang. Kini aku telah menjadi sepertimu,
Menjadi bintang yang bersinar,
Biarkan aku tetap menjadi sepertimu.
Jangan biarkan aku jatuh.
Aku tak ingin jadi bintang jatuh,
Aku takut jatuh.
***
Langganan:
Postingan (Atom)

